Kita tak pandai matematika
Tapi kita tentu tahu arti kurang dari tiga
Kita juga tak mau nol apalagi minus
Jadi pikir kita sederhana tentang kurang dari tiga
Adalah dua,
manusia yang bermula bingung menerka
hati yang pernah bertemu, meragu, lalu rindu
Adalah satu,
rasa yang tak biasa di antara kita
tujuan yang sedang sama-sama kita bina
Lalu, mengapa kurang dari tiga?
Karena kita hanya butuh dua untuk jadi satu.
...
Pada sebuah hari mendung, katamu alam tak mendukung.
Tapi siapa sangka, tak butuh dukungan semesta agar bisa bersua.
salamku <3 untukmu.
Menuju pukul 16.30 sore ini
Langit menjanjikan hujan lewat mendung
Basah di kelopak mata pun terbendung
Semilir sejuk telah ditiupkan
Daun yang tak hijau terjatuh
Kecamuk di dada pun semakin riuh
Mendung sore ini begitu bersahabat
Anak-anak berlarian, berangkat mengaji menuju surau
Aku mengutuki mendung dengan suara parau,
"Ke mana hujan sore ini?" tanyaku penuh risau
Hujan urung juga tiba
Hinggaku termenung berharap semesta 'kan iba
Ah, rupanya mendung menitipkan pesan,
tak selalu pengobat sedihmu adalah hujan
Seperti segala luka yang tak harus berair mata
Seperti segala kecamuk yang tak harus diratapi dengan khusyuk
Seperti segala tanya tak selalu harus berjawab
"Ke mana hujan sore ini?"
sudah pukul 17.13
tidak apa-apa
meski aku tak tahu di mana...
atau entah mengapa
Di lima ratus kilometer sana
Katamu hujan baru saja tiba
Rintik mendekapmu dalam jelma malam
Bebas mengisi sunyi
Di tiga puluh menit menuju minggu
Di sini hujan baru saja reda, kataku
Rintik beriringan pergi
Sisakan ragu yang ingin bertemu
Diriku, dirimu rapuh telah meluruh
menyatu pada debu jalanan yang menguap,
terbawa, bersama aliran yang tak bertemu tanah gersang
Namun
Apabila malam tak hujan
Dirimu 'kan melayang bersama kepulan putih itu
Satu dua lintingan habis menyisakan mimpi
Apabila malam tak hujan
Diriku 'kan mati termenung pada lembaran fiksi
Satu dua halaman habis menyisakan ambisi
Mimpi dan ambisi yang rapuh perlu direparasi
juga diisi
Pada malam yang tak hujan itu
Kau bertanya mengenai hari-hari yang lesu sayu dan layu
Aku menjawab, "tenang, mari rebahkan tubuh, sudah pukul tiga menjelang subuh"
Karena soal hari-hari itu tak ada jawabnya,
lalu sampai pada tanyaku, "apakah kelak kau 'kan mereparasi sementara aku yang mengisi?"
...
Tiba malam ini, hujan pun tak berjarak
Namun segala tanya kembali tak berjawab